• header
  • header

Selamat Datang di Website SMK NEGERI 4 PENAJAM PASER UTARA. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMK NEGERI 4 PENAJAM PASER UTARA

NPSN : 20210743

Jl.Propinsi Km.27 Desa Seselu Kec.Waru Kab.Penajam Paser Utara 76284


info@smkn4ppu.sch.id

TLP : 0265656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 15539
Pengunjung : 5178
Hari ini : 15
Hits hari ini : 42
Member Online : 0
IP : 18.232.53.185
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

MERDEKA BELAJAR DI ABAD 21




whatsapp_image_2021-12-03_at_19-37-18

Merdeka Belajar. Peradaban telah berubah, pun teknologi yang kian berkembang. Tak elak membuat tantangan masa depan bagi generasi kini semakin berat, persaingan dunia kerja semakin selektif. Dari kasus yang demikian, apa yang harus disiapkan untuk melampaui segala tantangan zaman yang kian kompetitif? Apa korelasi seorang pendidik untuk tercapainya masa depan menjanjikan bagi peserta didik?

 

      Sering kita dengar istilah 'Merdeka Belajar', belakangan ini. Menurut Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, Merdeka Belajar merupakan filsafat awal pendiri bangsa Indonesia Presiden Soekarno dan pendiri sistem pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menentukan visi SDM Indonesia seperti apa. Merdeka belajar adalah untuk memastikan bahwa institusi individu, guru, murid memerdekakan institusinya maupun pemikiran mereka terhadap berbagai macam kehidupan nasional.

 

      Dengan demikian, bagaimana mempraktekkan Merdeka Belajar di lingkungan yang minat belajarnya kurang? Inilah tantangan bagi seorang pendidik. Membuka pola pikir peserta didik agar lebih bersifat kritis dan kreatif. Membangunkan mereka dari zona nyaman. Mencoba menjadi fasilitator yang mampu menumbuhkan semangat bagi peserta didik. Namun terkadang peran pendidik yang berubah hanya menjadi seorang fasilitator menjadikan miskonsepsi bagi khalayak masyarakat. Padahal seorang pendidik pada abad ke-21 sangat berat tantangannya. Pendidik harus melek teknonologi kekinian, pun harus mampu menjadi model panutan bagi anak didiknya.

 

      Pengaruh lingkungan dan pergaulan menjadikan pola pikir menjadi kolot. Strategi seorang pendidik harus mampu mematahkan segala asumsi lawas bahwa untuk menjadi kaya tidak perlu belajar. Tidak demikian, karena pengalaman dan ilmu yang baik akan mampu menjadikan cikal kesuksesan berkarya di dunia ekonomi untuk mendapatkan nafkah yang baik.

 

      Berusaha memahami keunikan dan bakat siswa adalah salah satu usaha seorang pendidik untuk menentukan metode stimulus memerdekakan para siswa didiknya dalam belajar. Tak menjadi tolak ukur nilai raport maupun ranking untuk sebuah kesuksesan masa depan. Seorang pendidik harus berusaha menjadikan anak didiknya seorang individu yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, dan berkompetensi.

 

      Istilah dahulukan adab daripada ilmu itu juga sangat dalam sekali maknanya di era Merdeka Belajar. Peserta didik tidak hanya diberi kebebasan berkarya, namun juga harus mempunyai akhlak yang santun dan punya rasa simpati maupun empati terhadap lingkungan. Banyak sekali kasus yang terjadi bahwa siswa terpintar di sekolah kurang beruntung dalam sebuah karier. Namun, peserta didik dengan prestasi yang biasa saja mampu membuat sebuah prestasi di pasca sekolahnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Masalah kemampuan bersosial bisa menjadi sebuah faktor. Jadi, di era sekarang sekolah bukan hanya lagi tempat menimba ilmu akademik, namun juga pengalaman positif. Sehingga peserta didik mampu melenggang elegan di tengah-tengah masyarakat yang heterogen.

 

      Pembelajaran ala abad ke-21 bisa dijadikan wadah bagi pendidik untuk menerapkan merdeka belajar. Di mana ada tahap literasi yang bisa menstimulus peserta didik agar lebih kritis. Kemudian tahapan berikutnya adalah Critical Thinking, di mana belajar untuk mampu memecahkan sebuah masalah. Peserta didik juga dibimbing agar mampu berkolaborasi baik dalam lingkup kecil ataupun besar. Tak kalah penting juga adalah tahap peserta didik mampu berkomunikasi dengan lancar serta kreatif dalam menyajikan hasil karyanya. Peserta didik juga disisipi ilmu rohani agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia. Jika disimpulkan, maka kompetensi-kompetensi tersebut akan sangat besar pengaruhnya di kehidupan masa depan.

 

Penulis Anita Dwi Basuki, S. Pd.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas